Panggung Salafi Modern: Akidah yang Tergulung Berhala Gengsi

Panggung Salafi Modern: Akidah yang Tergulung Berhala Gengsi

“Sebenarnya buat apa sih debat begitu itu?” gumam beberapa pengamat video perdebatan Gus Wafi dan Ustaz Toyyib yang belakangan membanjiri lini masa layar gawai. Menariknya, secara implisit panggung laga argumen tersebut membawa pada satu fenomena yang agaknya lebih asyik digunjingkan akademisi ketimbang perdebatan itu sendiri. Perdebatan Asy‘ariyah dan Salafi kerap membawa materi diskursus dari ruang diskusi menuju ruang tontonan. Dalil disimak, cacatan dicatat, pemenang ditepuk-tangani. Setelahnya, kolom komentar bekerja seperti yang sudah lalu. Ada yang menguji argumen, ada yang mendewakan tokoh, ada yang sekadar memastikan bendera golongannya tetap berkibar. Sejujurnya, jika perdebatan itu dibaca tanpa fanatisme kelompok, dengan ukuran logika dan koherensi epistemik, posisi argumentatif Gus Wafi tampak jauh lebih presisi. Keberatan lawan dijawab, dalil-dalil ditempatkan secara proporsional, sementara sejumlah pertanyaan kubu seberang justru memperlihatkan celah dalam konstruksi berpikirnya. Di layar gawai, semua tampak telah usai. Argumen dapat diuji, dalil dapat ditimbang. Namun sayangnya, manusia ternyata tak sesederhana penalarannya.

Di sinilah letak persoalan yang sedikit “banyol”. Jika sebuah perdebatan akidah dapat dimenangkan dengan argumentasi, mengapa kekalahan argumentatif tidak selalu melahirkan perpindahan keyakinan? Mengapa golongan yang melihat pihak lawannya lebih unggul dalam penalaran tidak serta-merta berucap, “Oalah, ternyata kami yang keliru”? Barangkali sebab akidah tidak sepenuhnya perkara rasio, tapi soal gengsi. Ada afeksi, identitas, dan loyalitas komunal yang ikut dipertaruhkan. Pada titik ini, akidah tidak lagi menjadi perkara epistemologi semata. Ia telah menjelma menjadi identitas. Ketika identitas sudah bertahta, logika sering kali hanya diminta datang untuk memberikan pembenaran.

Di balik riuh pertengkaran dalil itu, ada kerja-kerja subsumsi sosial yang tak tampak oleh mata telanjang teologi. Salafisme urban tidak hadir sebatas membawa ajaran, tapi menawarkan merek religiusitas baru bagi kelompok borjuis kota. Spiritualitas yang dikemas serba instan, tertib, dan bersih dari kompromi lokal menjadi komoditas menarik bagi mereka yang ingin tampil religius sekaligus modern. Bagi mereka yang dikepung komodifikasi spiritualitas modern, keberagamaan yang serba ketat dan serba tegas adalah sebuah strategi penanda batas yang memisahkan mereka dari nalar rakyat jelata. Agama lantas dikonsumsi bak merek barang mewah: semakin eksklusif doktrinnya, semakin tinggi perasaan lebih suci dibanding rakyat jelata. Sementara Asy’ariyah yang digaungkan ormas NU, dalam napas keumatan justru mengendap dalam reproduksi tradisi kebudayaan yang sublim dan mengakar di ceruk-ceruk tradisi. Maka ketika dua kutub ini berhadapan di panggung terbuka, yang sedang bertanding sebetulnya bukan seberapa presisi nalar kalam ditata, melainkan benturan gengsi antarkelas yang bertopengkan kesucian dogma.

Maka jangan heran jika kebenaran argumen sering kali tewas di tangan disonansi ego. Mengaku kalah dan salah di depan publik bukan cuma soal kebangkrutan teologis, melainkan bentuk dekonstruksi atas eksistensi diri yang selama ini dibangun dengan mahal. Menerima kebenaran lawan berarti bersiap diusir secara sosial dari lingkaran pertemanan, jejaring bisnis, serta komunitas yang selama ini menyuplai rasa aman. Di sinilah tepatnya fenomena siege mentality bekerja, yakni tatkala kepungan kritik bukan direspons dengan kejernihan epistemik, melainkan dengan mekanisme pertahanan psikologis yang mengunci kesadaran. Ketika tersudut, pengikut akan menganggap kekalahan logika bukan sebagai kekeliruan berpikir, melainkan 'ujian keimanan' dan bentuk kezaliman dari pihak luar. Kemudian emosi bertindak sebagai benteng hegemoni yang melindungi rasa aman kelompok dari ancaman runtuhnya status sosial. Pada akhirnya, saat identitas dan jejaring sosial menjadi taruhan, fakta sejelas apa pun hanya akan dianggap sebagai perusak kenyamanan doktrin yang wajib ditolak demi menyelamatkan gengsi.  

Pada akhirnya, panggung debat yang riuh itu hanya menyisakan desakralisasi atas pencarian kebenaran itu sendiri. Ketika agama tergelincir menjadi komodifikasi identitas dan arena kontestasi gengsi, diskursus ilmiah setajam apa pun tak akan sanggup menembus ruang kesadaran. Ia berhenti sebagai spektakularisasi teologi, sebuah pertunjukan adu nalar yang menghibur para penonton namun steril dari nilai transendensi. Selama kemenangan hanya ditakar dari kebenaran nalar di panggung, perdebatan akidah hanya akan melahirkan kelelahan massal. Logika dipaksa mengabdi pada ego, lantas iman mati pelan-pelan di balik jenggot.

Oleh: Hasembuh lah
Editor: Abda' Rifqi
Lebih baru Lebih lama