Tahun 2021 : Tentang Sebuah Koper yang Batal Ditutup
Di sudut kamar Ma'had Fii Syarifatul Ulum, koperku sudah siap. Isinya hampir penuh dengan kitab-kitab yang sudah khatam dan pakaian yang mulai memudar warnanya. Tiga tahun di tingkat SMP kurasa sudah cukup. Aku ingin boyong, kembali ke rumah, ke pelukan hangat keluarga yang sederhana di Jawa Timur.
Namun, dawuh Kiai Sepuh menghentikan jemariku yang hendak menarik koper. "Tunggu sampai tamat,” ucap beliau tenang, namun sarat makna. Aku tertunduk. Sebagai santri, aku tahu benar bahwa di atas ilmu ada adab; di atas keinginan pribadi ada rida guru. Aku memilih tinggal, melipat kembali mimpiku untuk pulang, dan menggantinya dengan kesabaran yang panjang.
Tahun 2024: Ujian Terakhir, Antara Bakti dan Janji Santri
Waktu berjalan hingga aku menginjak kelas 3 SMA. Badai kembali datang, kali ini lebih hebat. Kabar dari rumah menyayat hati; keadaan orang tua sedang tidak memungkinkan karena ekonomi keluarga terguncang hebat. Rasanya tidak tega membiarkan mereka berjuang sendirian di sana, sementara aku di sini menghabiskan biaya.
Hingga suatu hari, langkahku terhenti di depan kediaman Ibu Nyai. Beliau adalah sosok yang sudah kuanggap seperti ibu sendiri. Dengan niat bulat untuk benar-benar pulang, aku mencoba peruntungan menghadap beliau, barangkali pintu restu kali ini terbuka.
"Izin boyong, lbu... keadaan di rumah sedang sulit," ucapku lirih di depan beliau. Aku merasa ini alasan yang paling logis untuk berhenti. Namun, lagi-lagi jawaban yang kuterima adalah ketenangan yang menguji iman. Beliau tetap menahanku, meyakinkanku bahwa kesulitan di rumah adalah ujian kesungguhan dalam menuntut ilmu.
"Tidak usah boyong, di ndalem saja".
Aku tertegun. Di saat aku ingin lari dari kenyataan, guru justru menarikku lebih dekat ke jantung pesantren. Aku diminta mengabdi, membantu keperluan di kediaman beliau. Dengan air mata yang tertahan, aku belajar: terkadang bakti terbaik kepada orang tua bukan dengan pulang membawa raga, melainkan dengan menetap membawa ketaatan pada guru. Di ndalem pulalah, proses "pembersihan hati" itu benar-benar dimulai.
Dapur Ndalem dan Gejolak Batin
Waktu bergulir, dan keadaan berubah drastis. Kiai sepuh jatuh sakit. Kesedihan menggelayuti seluruh penjuru pesantren. Di tengah hiruk-pikuk doa yang dilangitkan, aku mengabdikan diri di ndalem. Tanganku akrab dengan uap panas di dapur, memasak untuk para santri sembari sesekali mencuri waktu untuk sowan menanyakan masa depanku. Karena Kiai Sepuh sedang sakit, setiap urusan dan bimbingan beralih kepada putra beliau, Sang Gus.
Di sela pengabdianku itulah, aku sering menghadap beliau untuk mencari jawaban atas teka-teki masa depanku. "Mau kuliah di mana? Sudah siap bermasyarakat?" tanya beliau. Aku menjawab dengan deretan rencana yang sudah kususun rapi di kepala. Aku bicara dengan lancar dan penuh keyakinan. Namun, jawaban yang kuterima justru sebuah “rem”.
"Coba dipikirkan lagi”.
Hanya itu. Singkat, padat, dan membuatku sulit tidur. Panggilan kedua pun sama; keyakinanku dibalas dengan ketidaksetujuan yang tidak dijelaskan alasannya. Aku bingung, merasa buntu. Setiap malam aku selalu merenungkan maksud jawaban dari Sang Gus. Aku merasa rencana yang kususun sudah matang, namun beliau masih menyuruhku untuk memikirkannya lagi. Apalagi yang harus kupikirkan? Apa yang kurang dari persiapanku?
Dialog batin itu terus berputar, beradu dengan rasa iri yang sesekali muncul saat melihat teman-teman seangkatanku mulai membagikan foto kartu mahasiswa atau cerita tentang pekerjaan mereka. Sementara aku? Aku masih di sini, bergelut dengan asap dapur dan doa-doa yang panjang. Studiku sudah tamat, ijazah sudah di tangan, dan pengabdianku sudah cukup. Lalu apa lagi? Bukankah pintu gerbang pesantren sudah seharusnya terbuka untukku?
Namun di pesantren, kita belajar bahwa “cukup” menurut kita belum tentu “tepat” menurut guru. Penolakan Sang Gus di tahun 2024 ini bukan untuk menghalangi langkahku, melainkan untuk menata niatku yang mungkin masih berantakan oleh ego masa muda. Keinginanku untuk segera boyong terasa sangat rasional bagi seorang lulusan SMA. Namun di mata beliau, mungkin ada sesuatu yang belum selesai di dalam jiwaku—sesuatu yang hanya bisa dimatangkan oleh uap panas dapur ndalem dan kesabaran dalam ketidakpastian.
Panggilan Ketiga: Kejutan di Balik Kemustahilan
Hingga akhirnya, panggilan ketiga itu tiba. "Berangkatlah ke Al-Azhar, Kairo".
Duniaku seolah berhenti berdetak. Tidak ada pertanyaan lagi. Tidak ada perintah untuk "berpikir lagi". Kali ini adalah perintah mutlak. Aku terkejut. Bagaimana mungkin? Aku hanya gadis dari keluarga sederhana. Biaya, kemampuan bahasa, hingga rasa tidak percaya diri menghantamku sekaligus. Siapa aku hingga dipercaya memikul amanah ini? Mengapa beliau-beliau memilihku yang belum bisa apa-apa ini?
Di tengah kegamangan itu, lembut tutur kata Ning menjadi penyejuk. Beliau meyakinkanku bahwa khidmah yang kulakukan di dapur dan keikhlasan dalam melayani adalah “tiket” yang tidak terlihat oleh mata manusia, namun nyata di hadapan Tuhan. Malam itu, air mataku tumpah bukan karena sedih, melainkan karena rasa takut yang hebat. Takut mengecewakan dan merasa tidak pantas. Di antara isak tangis itu, aku teringat satu hal: barokah. Jika guru yang mengutus, maka guru pula yang akan memohonkan jalan kepada Tuhan.
Tembok Besar: Antara Menara Azhar dan Batu Tambang
Di tengah rasa syukur yang bercampur ragu, sebuah tembok besar sekali lagi menghadang: restu Ayah. Sebelum perintah ini turun, Ayah sudah memiliki rencana yang tidak bisa diganggu gugat. Beliau ingin aku mengambil jurusan Pertambangan di Indonesia—sebuah dunia yang keras, penuh debu, dan didominasi laki-laki.
"Kuliah di sini saja, Nak. Pertambangan itu masa depannya jelas," tegas Ayah. Ibu pun setuju karena ingin aku tetap dekat agar bisa membantu keluarga. Aku terhimpit. Di satu sisi, ada rencana orang tua yang terasa begitu asing bagi jiwaku. Di sisi lain, ada dawuh guru untuk menjemput mimpi di Kairo.
Santri mana yang tidak bermimpi bisa menginjakkan kaki dan menimba ilmu di negeri para Nabi? Al-Azhar adalah mercusuar ilmu yang diidamkan setiap santri. Aku bertanya-tanya dalam sujud malamku, rida mana yang harus kuutamakan? Apa artinya aku tanpa rida orang tua? Namun, mungkinkah aku melangkah tanpa barokah guru?
Aku bersimpuh dalam istikharah yang panjang. "Ya Allah, aku serahkan semua pada-Mu," bisikku di sela isak.
Berhari-hari aku mencoba mencari celah untuk bicara. Setiap kali duduk di meja makan atau saat menyuguhkan kopi untuk Ayah, lidahku kelu. Aku tahu, menolak keinginan Ayah bukanlah perkara mudah. Perlahan, aku mulai bercerita tentang Al-Azhar, tentang bagaimana ribuan ulama besar lahir dari sana, dan betapa besar harapan Sang Gus terhadap kebekeberangkatanku.
"Bukan aku menolak pilihan Ayah," ucapku suatu sore dengan nada serendah mungkin, "tapi ini adalah amanah guru yang sudah menjaga dan mendidikku selama bertahun-tahun. Aku takut jika aku melangkah tanpa rida guru, ilmuku tidak akan berkah".
Sebuah keajaiban terjadi; hati Ayah yang tadinya keras perlahan melunak. Beliau akhirnya mengizinkanku untuk tidak mengambil jurusan itu dan menyerahkan masa depanku pada dawuh pesantren. Aku kini mendapatkan keduanya: rida orang tua dan restu guru.
Tahun 2025: Menjemput Nama di Bumi Kinanah
Kini, angin kering Kairo menyapu wajahku. Di bawah bayang-bayang menara Al-Azhar yang megah, aku berdiri dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Di sinilah aku, menghadapi ujian kehidupan yang baru, belajar mandiri di negeri orang, dan menyelami arti perjuangan yang sesungguhnya.
Baru sekarang aku menyadari sebuah plot twist indah yang Tuhan siapkan sejak aku lahir. Namaku Nada Lailatul Azhari. Selama belasan tahun, "Azhari" hanyalah deretan huruf di ijazah dan KTP-ku. Kini, aku tidak hanya memiliki nama Azhari, aku benar-benar menjadi seorang Azhariyah.
Ternyata, perjalanan "menahan diri", pengabdian di dapur, dan penolakan-penolakan halus dari Gus adalah cara Tuhan menuntunku pulang ke tempat yang seharusnya. Tuhan tidak memanggil yang mampu, Dia memampukan yang terpanggil. Dan namaku adalah doa yang akhirnya menemukan rumahnya.
Editor: Rafa Darrell
