Iqra di Era Algoritma: Mengembalikan Nurani yang Terkoyak Modernisasi

Iqra di Era Algoritma: Mengembalikan Nurani yang Terkoyak Modernisasi

“Ketika algoritma telah mendikte logika, aksara menjadi tempat terakhir bagi jiwa”

Dunia modern kini bukan hanya tentang atom dan partikel, melainkan juga bit dan data. Hari ini, kita sedang berdiri di ambang Revolusi Industri 4.0., sebuah era di mana garis pemisah antara fisik dan semu, antara realitas dan fantasi, antara dunia nyata dan maya menjadi semakin samar. Pergeseran radikal semacam ini lantas memunculkan tanya, “Bagaimana cara kita membaca realitas di tengah perubahan dunia?” 

Perintah membaca (Iqra) pada ayat pertama yang turun di dalam Al-Quran akan kehilangan makna, jika diartikan secara apa adanya. Literasi klasik menjadi tidak relevan lagi, ketika kebebasan informasi dapat diakses hanya dengan ketukan jari. Iqra dan literasi perlu penyesuaian agar dapat senantiasa beriringan dengan modernisasi.

Sebagai seorang santri yang tidak hanya terbiasa bergelut dengan kitab kuning, namun juga—sedikit banyak—akrab dengan barisan kode, penulis melihat bahwa salah satu tantangan terbesar pada era ini adalah ledakan informasi yang tidak mudah untuk disaring. Selain itu, terdapat pula sebuah paradoks besar: teknologi yang pada awalnya dirancang untuk menghubungkan, secara perlahan justru mulai mengasingkan.

Globalisasi yang Membekukan Rasa

Modernisasi melahirkan Kecerdasan Buatan—atau Artificial Intelligence (AI)—yang mampu merangkai puisi, dan algoritma media sosial yang dapat memprediksi hasrat terdalam diri. Namun, muncul sebuah ironi yang menyayat hati: teknologi yang awalnya dirancang untuk meruntuhkan jarak, sekarang justru membangun tembok baru yang tak kasat mata.

Inilah wajah dunia saat ini. Di satu sisi, ia menawarkan kemudahan serta akses tanpa batas. Namun, di sisi lain, ia juga menciptakan degradasi kepekaan sosial. Interaksi antar-manusia yang dulunya penuh dengan gestur, tatapan mata, dan getaran ketulusan, kini sering kali bergeser menjadi sekadar angka statistik—jumlah like, share, dan komentar. Kita sekarang sangat lihai berinteraksi dengan layar, namun terdiam saat berhadapan dengan rasa. Ketulusan sering kali tergeser oleh pencitraan, dan empati kerap hilang dengan tombol block.

Sebuah Usaha Memulihkan Kemanusiaan

Literasi digital kini menjadi fardu ain dalam modernisasi. Ia bukan hanya sekadar kemampuan untuk mengoperasikan gawai dan alat digital (digital skills), melainkan sebuah usaha untuk kembali memanusiakan teknologi. Setidaknya, ada tiga hal yang perlu menjadi perhatian:

  1. Berpikir Kritis (Critical Thinking): Kemampuan untuk tetap “sadar” di tengah terpaan badai informasi. Tanpa kecerdasan kritis, kita akan mudah untuk terjebak dalam arus kebencian dan polarisasi yang merusak kemanusiaan. Literasi digital adalah bentuk baru dari tabayun, yang memastikan bahwa terdapat nurani di setiap jari yang mengetik.
  2. Etika Digital (Digital Ethics): Di ruang digital yang anonim, kemanusiaan sering kali dianggap barang murah. Akses tanpa batas kerap membuat kita lupa, bahwa di balik setiap akun, terdapat sebuah jiwa yang memiliki rasa. Etika digital adalah sebuah upaya untuk menjaga agar martabat manusia tidak diasingkan oleh sebuah mesin.
  3. Budaya Digital (Digital Culture): Masyarakat Indonesia dikenal dengan budaya gotong royong dan rasa kekeluargaan. Kehangatan interaksi ini seharusnya menjadi bekal dalam melawan “dinginnya” algoritma. Budaya digital yang selaras dengan nilai-nilai bangsa mengajak kita untuk tidak sekadar menjadi objek, melainkan menjadi subjek yang tetap memiliki kendali atas empati.

Santri, Kode, dan Integritas Rasa

Dalam dunia data, kita mengenal istilah Data Integrity (Integritas Data)—jaminan atas keakuratan dan konsistensi suatu data. Jika sebuah data kehilangan integritasnya, maka sistem secanggih apa pun pada akhirnya akan runtuh, menghasilkan kesimpulan yang fatal.

Sedangkan dalam tradisi pesantren, kita mengenal konsep sanad dan ikhlas. Sanad berbicara tentang kejujuran, dan ikhlas adalah tentang kemurnian. Kemajuan teknologi kerap “mengorupsi” rasa demi algoritma. Kita menulis bukan lagi untuk berekspresi, tetapi demi engagement. Kolom komentar bukan lagi tempat bersua, melainkan tempat mengais validasi.

Di era otomatisasi, kita bicara tentang integritas rasa. Informasi dan narasi yang hanya disebarkan tanpa adanya tanggung jawab dan keterlibatan hati, pada akhirnya hanya akan menjadi sampah digital yang mengoyak kemanusiaan. Sebagai santri, kita memiliki tanggung jawab ganda: memastikan "kode" yang kita rangkai membawa manfaat untuk sekitar, dan juga "aksara" yang kita tebar memiliki sanad pada nilai-nilai kemanusiaan.

Digitalisasi dan modernisasi bukan sekadar isu receh di warung kopi. Ia adalah bagian dari peradaban yang memengaruhi eksistensi manusia masa kini. Tanpa adanya kesadaran, kemampuan, dan juga persiapan yang mencukupi, teknologi yang seharusnya menjadi pelayan bagi keluhuran budi dan kemudahan interaksi, justru akan menjadi tuan yang memperbudak nurani dan mengasingkan hati.

Pada akhirnya, literasi digital adalah manifestasi dari perintah Iqra. Membaca tidak lagi hanya terbatas pada teks, tetapi juga keresahan sesama di balik layar. Teknologi hanyalah alat, sedangkan nurani adalah kemudi. Melalui setiap kata yang disusun dengan rasa, terdapat pesan yang ingin disampaikan kepada dunia: meski raga berdetak di era algoritma, nadi harus tetap berdenyut sebagai manusia.

Redaktur: Rofiqul Amin
Editor: Abda' Rifqi
Lebih baru Lebih lama