Dalam rangka menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW, Forum Informasi Silaturahmi Mahasiswa dan Alumni Bahrul Ulum (Fismaba) Mesir turut ambil bagian dalam merayakan momen agung dan bersejarah tersebut dengan mengadakan acara peringatan Maulid Nabi pada Kamis, 20 Agustus 2026, yang bertepatan dengan 7 Rabiulawal 1448 H. Kegiatan ini merupakan rutinitas tahunan sekaligus implementasi salah satu fungsi Fismaba Mesir sebagai fasilitator pelestarian tradisi pesantren bagi para alumni yang berada di Mesir. Selain itu, acara ini juga menjadi ajang untuk bersama-sama mengekspresikan rasa cinta kepada Sang Utusan, yang kelahirannya menjadi rahmat bagi alam semesta.
Dengan mengusung tajuk “Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW & Majelis Ilmu Fismaba Mesir”, perayaan maulid pada tahun ini menyajikan konsep yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Tidak hanya menggelar majelis selawat—sebagaimana biasanya—acara ini juga menyajikan forum kajian ilmiah bersama salah seorang masyayikh Al-Azhar, Syekh Aiman Al-Hajjar. Forum tersebut diisi dengan pembacaan salah satu kitab sirah Nabi, yaitu Nur Al-‘Uyun, karangan Imam Ibnu Sayyidin-Nas.
Dalam perencanaannya, para pengurus berangkat dari kesadaran bahwa perayaan maulid bukan hanya menjadi tradisi pesantren Nusantara, tetapi juga merupakan ajaran yang menjadi corak ahlusunah waljamaah secara umum. Secara praktis, setiap tempat dan kebudayaan memiliki kultur dan karakteristik tersendiri dalam mengaktualisasikannya. Dalam budaya pesantren, perayaan maulid lebih sering kita jumpai dalam bentuk rangkaian hadrah dan ceramah umum. Sementara itu, di Al-Azhar, masuknya bulan maulid lebih dominan disemarakkan dengan berbagai forum pembacaan dan ijazah berbagai kitab, layaknya kitab sirah dan hadis.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan inisiatif dari para pengurus untuk memadukan kedua kultur tersebut, yakni pembacaan maulid melalui hadrah khas pesantren serta pengajian dan ijazah kitab sirah ala Al-Azhar. Dengan konsep semacam ini, Fismaba Mesir memutuskan untuk memberikan kesempatan kepada khalayak umum untuk turut bergabung melalui pendaftaran acara yang dibuka untuk umum. Alhasil, sekitar 100 partisipan hadir memenuhi aula Griya KSW, tempat dilaksanakannya kegiatan, baik dari internal maupun eksternal Fismaba Mesir.
Sebelum acara resmi dibuka, tim hadrah An-Nahdlah terlebih dahulu memimpin selawat dan pembacaan Maulid Ad-Diba’i. Setelah itu, acara seremonial dibuka oleh Alfanil Khuruj sebagai pembawa acara berbahasa Arab yang memandu acara dengan energik. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Azmi Aufa Zuhri. Sebagai prakata penyelenggara, saya diberi kesempatan untuk menyambut para hadirin seraya sedikit mengenalkan perihal Fismaba Mesir dan Pesantren Bahrul Ulum kepada Syekh Aiman serta para peserta umum yang hadir. Semuanya disampaikan dalam bahasa Arab.
Selanjutnya, acara memasuki agenda inti, yaitu majelis ilmu bersama Syekh Aiman Al-Hajjar. Beliau memulai majelis dengan sedikit bercerita mengenai perjalanannya ke Indonesia beberapa tahun lalu dan kunjungannya ke berbagai pesantren di tanah Jawa. Menariknya, beliau juga sedikit menyinggung Pesantren Bahrul Ulum. “Pada kunjungan yang lalu, saya belum sempat mengunjungi Pesantren Bahrul Ulum, tetapi saya sudah pernah mendengarnya sebagai pesantren yang besar dan tua,” tegasnya. Selain itu, beliau juga sedikit menyinggung mengenai rencana kunjungannya ke Tambakberas untuk menghadiri sejumlah forum ilmiah, tanpa menjelaskan lebih detail.
Memasuki sesi pembacaan kitab, beliau terlebih dahulu memberi prolog tentang keistimewaan kitab yang akan dibaca. Menurut beliau, kitab Nur Al-‘Uyun merupakan kitab sirah ringkas yang paling layak untuk dibaca karena bahasanya mudah, isinya berbobot, serta kapasitas keilmuan pengarangnya yang telah diakui.
Setelah prolog, pembacaan kitab pun dilakukan secara bergantian oleh para petugas, seraya Syekh menyimak dan membenahi kesalahan bacaan. Sesi ini berlangsung selama sekitar satu setengah jam. Setelah selesai, beliau memberikan ijazah khusus untuk kitab Nur Al-‘Uyun serta ijazah umum untuk seluruh periwayatan keilmuan yang berasal dari beliau kepada para hadirin. Terakhir, beliau menutup majelis dengan pembacaan doa khatam kitab.
Tak ingin menyia-nyiakan momen, para peserta kemudian melanjutkan kegiatan dengan sesi foto bersama Syekh. Pada sesi ini, pengurus turut memberikan kenang-kenangan kepada beliau berupa sertifikat serta salah satu kitab karangan K.H. Abdul Rohim Ma’ruf, guru senior Bahrul Ulum, yang berjudul Munyah Qatf Al-Ghaits. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya simbolis untuk mengenalkan perkembangan tradisi keilmuan yang berlaku di Bahrul Ulum kepada khalayak luas.
Acara ditutup dengan pembacaan mahallul qiyam oleh hadrah An-Nahdlah, yang merupakan salah satu ciri khas utama perayaan maulid pesantren, serta doa yang dipimpin oleh Saudara Muhammad Abda Rifki Syukron Atqiya, Lc.
Demikianlah, terlaksananya acara ini tidak hanya mendatangkan kebahagiaan melalui lantunan berbagai pujian kepada Nabi serta wawasan yang didapat mengenai sirah, tetapi juga membawa berbagai harapan terkait eksistensi almamater di kalangan masisir dan masyayikh Al-Azhar, serta penguatan kualitas kegiatan internal Fismaba Mesir.
(Warta ini ditulis menggunakan metode self-reporting (pelaporan mandiri) oleh penulis yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Fismaba Mesir 2025-2026)
Editor: Rofiqul Amin